Drssuharto’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

MEMBACA Maret 4, 2008

Filed under: Artikel Pendidikan — drssuharto @ 3:31 pm

Oleh:
Drs. Fekrynur, M.Ed.*

Bila Anda bukan seorang pejabat, jangan teruskan membaca artikel ini!

Bersekolahlah agar kamu pandai tulis baca….!

Boleh jadi karena terpengaruh dongeng terkenal zaman Abu Nawas, tentang seorang pengawal istana yang tak pandai tulis-baca, namun licik dan tolol; dan karena ketololannya, dia merebut surat hukuman dari tangan orang lain, sampai akhirnya dia mati tragis di tangan algojo.

Begitu sederhananya harapan masarakat masa lalu kepada sekolah; hanya untuk pandai tulis-baca.

Sekarang, tuntutan hidup terhadap keterampilan tulis-baca semakin kuat, sebab belajar atau tulis-baca tidak hanya di sekolah. Pendidikan dikatakan harus berlanjut seumur hidup. Ironisnya, membaca dan menulis hanya diajarkan sampai dengan kelas tiga SD saja , sama seperti tempo doeloe. Kondisi ini berdampak kepada sedikitnya dari kita dan anak-anak kita yang gemar membaca. Kalaupun ada membaca, kita bukan pembaca yang produktif.

Walaupun himbauan untuk membaca terus diteriakkan, namun usaha konkrit untuk membuat anak didik senang membaca hampir tidak ada diprogramkan di sekolah. Yang diajarkan hanya matapelajaran; Bahasa Indonesia, Geografi, Ilmu Pengetahuan Alam, Matematika, bahasa Asing dan mata pelajaran yang dianggap penting lainnya. Pelajaran baca-tulis, diajarkan sambil lalu saja dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan bahasa asing.

Seolah-olah kita telah puas saja dengan pengajaran membunyikan huruf sampai dengan kelas tiga SD. Disayangkan pula, cukup banyak guru bahasa yang meremehkan pengajaran tulis baca. Padahal tuntutan terhadap kemampuan membaca dan menulis semakin tinggi.

Apakah yang disebut membaca itu?

Membaca adalah proses interaksi antara penulis dengan pembaca yang menggunakan pengetahuan awalnya untuk memahami informasi baru dari penulis. Pembaca yang miskin informasi awal akan mengalami kesulitan memahami terlalu banyak informasi baru. Belumlah membaca, namanya, kalau seseorang tidak mampu menarik suatu pemahaman dari suatu text.

“Membaca adalah pintu gerbangnya ilmu pengetahuan.” Ini hanya berlaku bagi pembaca yang produktif, yaitu mereka yang membaca untuk menambah pemahaman dari bidang ilmu pengetahuan yang ditekuninya. Dengan kata lain; membaca dapat memberi nilai tambah kepada kehidupan.

Keterampilan membaca dan menulis, seibarat mata uang dengan kedua sisinya.

Susah dibayangkan, seorang terpelajar di zaman ini hanya pandai membaca buku ilmiah saja, tapi tak mampu menuangkan idenya sendiri secara tertulis.

Semestinya, semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang semakin banyak dia harus terlibat dalam kegiatan membaca dan menulis minimal dalam bidang ilmu yang ditekuninya. Kegiatan baca tulis seperti ini memerlukan keterampilan baca tulis yang lebih baik dan sistematik, yang bisa didapatkan melalui latihan yang terarah dan terbimbing.

Seorang pembaca pemula, yang belum gemar membaca, semestinya diberi kesempatan memilih dari berbagai topik, jenis, dan tingkat bacaan yang sesuai dengan pengetahuan awalnya. Penulis pemula juga begitu, harus berlatih sampai akhirnya dia mampu memasarkan idenya. Penulis yang berpengalaman pandai menyikapi dengan menjuruskan tulisannya untuk kalangan pembaca tertentu. Dia menuangkan informasi dalam pilihan kata yang cocok dengan audience, atau pembaca target-nya.

“Prof.Dr. Abdul Aziz Shaleh (20/8/2004) mensinyalir banyak orang bersekolah tapi tidak membaca; “ …Salah satu penyebab utama rendahnya mutu pendidikan adalah melencengnya motivasi orang masuk perguruan tinggi. Kebanyakan orang kuliah bukan untuk mencari ilmu pengetahuan tetapi mencari ijazah.” —Harian Singgalang 23 Agustus 2004, hal. 16.

Ahli pengajaran bahasa Soenjono Dardjowidjojo mengkritisi bahwa masih banyak para kandidat Doktor yang belum terampil tulis baca. – Rampai bahasa pendidikan dan budaya, 2003.

Kiranya, tujuan bersekolah untuk belajar baca-tulis itu masih relevan. Akan tetapi tentu pengajaran baca-tulis yang dimaksud harus disesuaikan pula dengan tuntutan pembelajaran zaman sekarang. Para pejabat di bidang pendidikan semestinya melakukan sesuatu, dimotori oleh para pakar bahasa yang memahami benar bahwa baca-tulis itu adalah suatu keahlian yang dapat dipelajari, bisa diajarkan. Hobi membaca di tengah masarakat baru bisa tumbuh bila terjadi internalisasi motivasi dan dorongan.

Membaca itu satu paket dengan menulis seperti diungkapkan oleh Alqur’an (Surat Al ‘Alaq ayat 1-5).

HIMBAUAN UNTUK MEMBACA

Kita tidak kekurangan himbauan untuk membaca dan menulis. Sehingga sudah menjadi suatu kesenangan pula bagi sebahagian pejabat kita untuk menghimbau masarakat kita agar menyukai membaca.

Yang kurang adalah program yang bersifat aplikatif untuk memasarakatkan membaca dan membacakan masarakat. Kita belum mendengar ada kegiatan yang membuat siswa bergiat belajar membaca, bertanding membaca, dan mendapat penghargaan karena pandai membaca. Kita jarang mendengar ada pejabat datang ke sekolah bertanya soal kegemaran membaca siswa, atau membawa sumbangan buku bacaan.

Mengapa saya harus mengajar siswa saya membaca?

Tuntutan membaca (seperti) apa yang akan ada di pundak siswa saya?

Dua pertanyaan diatas perlu dipertimbangkan agar silabus pengajaran tulis baca yang kita rumuskan menyentuh kebutuhan bidang ilmu dan jenis keahlian (skill) membaca siswa. Dengan begitu kita membantu siswa untuk kesiapan kehidupannya kelak. Pilihan content, isi serta topik, akan membuat siswa bergairah dan menikmati belajar tulis baca.

Guru berbagai mata pelajaran yang gemar membaca memahami benar hal ini.

Beberapa langkah berikut mungkin dapat dipertimbangkan untuk pengembangan program pengajaran baca-tulis:

1. Di kelas, guru harus selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang isi (berbagai) buku rujukan. Berikan juga kesempatan kepada mereka untuk berkomentar tentang apa yang dibacanya, baik secara lisan maupun tertulis.

2. Rekomendasikan berbagai buku yang akan menjadi buku pegangan siswa (di tingkat SMP dan SMA). Rekomendasi itu haruslah dengan pertimbangan yang berdasar.

3. Hilangkan citra (momok) buku pelajaran di sekolah hanya sebagai satu komoditi dan sering digonta-ganti, sebaliknya tiap buku menjadi komplementer dari buku lainnya.

4. Berikan penghargaan yang selayaknya kepada mereka yang lebih banyak membaca

5. Di tingkat sekolah, berikan perhatian lebih kepada siswa yang banyak, dan pintar, membaca melalui berbagai lomba.

6. Kepala sekolah dan komite memperhatikan fasilitas baca (buku-buku) yang lebih bervariasi.

7. Di tingkat pemerintahan dan badan usaha, terutama milik negara, berikan penghargaan kepada orang yang ahli untuk dipekerjakan di bidangnya. Dengan kata lain capability-nya dijadikan pertimbangan utama.

Semestinya, setiap guru adalah dari kalangan para pembaca efektif, dan yang aktif pula mengajarkan tulis baca dalam arti yang luas. Harapan kita terhadap pendidikan yang lebih bermutu hanya akan bisa disahuti oleh para guru yang masuk kategori pembaca efisien-efektif. Tidaklah tepat anggapan kalau yang menjadi guru tulis baca itu hanyalah guru bahasa saja.

Guru yang efektif itu adalah guru yang pandai berkomunikasi dengan baik dengan siswanya. Ini mensyaratkan seorang guru berkemampuan bahasa yang baik, gemar membaca, mengikuti perkembangan bidang ilmu yang ditekuninya.

Bila Anda, yang membaca artikel ini, bukan pejabat tulisan ini tidak akan berdampak kebijakan!

Padang 7 September 2004.

Bacaan Sumber a.l:

Morris, A. and Steward-Dore, N: Learning to learn from text, Addison-Wessley, NSW, 1990.

Hodge, Bob: Communication and the teacher , Longman Cheshire, Meulborne, 1985.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s