Drssuharto’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Mendesain Karakter Sekolah Maret 4, 2008

Filed under: Manajemen Pendidikan — drssuharto @ 3:30 pm

Sunday, 23 December 2007

Sekolah adalah tempat para pendidik membentuk karakter siswanya. Sekolah mampu mengubah dan memformat pemikiran dan sikap siswa dalam menjalani kehidupannya. Namun dari banyak sekolah yang ada di negeri ini, cukup banyakkah yang mampu mencetak siswa yang berkarakter?

Saya sebut karakter dengan pemahaman bahwa siswa yang diformat oleh sekolah A mesti memiliki karakter berbeda dengan siswa yang dibentuk oleh sekolah B. Namun jika kita melihat hasil pendidikan tidak membuat siswa itu berbeda dengan keluaran sekolah lain, berarti sekolah kita tidak mampu membentuk karakter. Atau bisa juga disebut, sekolah kita tidak memiliki karakter, atau biasa-biasa saja.

Karakter adalah ciri yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Ia bersifat unik dan distingue. Tentunya saat ini kita bisa membedakan seorang siswa yang dididik oleh sekolah beragama dengan sekolah nasional (negeri). Sekolah-sekolah yang agamis, biasanya mendoktrin siswanya dengan nilai-nilai agama yang sangat mempengaruhi semangat juang dalam setiap kesempatan, terutama dalam ajang perlombaan antar sekolah. Pernah saya berdialog dengan tiga orang siswa sekolah di Jabotabek dalam waktu dan tempat yang berbeda. Yang pertama adalah siswa Sekolah Negeri. Ketika saya tanyakan tentang keyakinannya untuk memenangkan perlombaan, dengan menunduk dia menjawab kalau keikutsertaannya dalam lomba hanya kebetulan saja. Ia sama sekali tak berharap kemenangan, karena baginya yang penting adalah dapat mewakili sekolahnya berpartisipasi dalam lomba tersebut. Jika tidak menang, tambahnya, itu merupakan nasib yang kurang menguntungkan saja. Lagipula, tambahnya, biasanya lomba-lomba seperti ini memang sudah biasa dimenangkan oleh sekolah orang-orang kaya.

Ketika pertanyaan yang sama saya ajukan kepada dua orang siswa sekolah beragama, siswa dari Sekolah Nasrani menjawab kalau dia yakin bisa memenangkan lomba tersebut. Karena secara akademis dia yakin telah menguasai pelajaran yang dilombakan, dan secara ideologis, dia ingin mengharumkan nama sekolah nasraninya sebagai sekolah terbaik dan terbiasa menjuarai lomba-lomba antar sekolah. Singkatnya, siswa tersebut mempunyai mental juara. Bagaimana kalau anda gagal, pertanyaan saya berikutnya. Jawabannya tegas, saya tak mau gagal, akan saya tunjukkan kalau sekolah kami selalu lebih baik dari sekolah lainnya.

Siswa ketiga berasal dari Sekolah Islam. Ia mengikuti lomba ini karena kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya terhadap prestasinya selama ini. Dia berusaha seoptimal mungkin menjadi juara sehingga mampu membuktikan bahwa sekolah Islam adalah sekolah terbaik. Kalaupun dia gagal, mungkin itu bagian dari kelemahannya, dan dia tetap bangga menjadi duta dari sekolahnya. Namun jika dia juara, Allah telah mengamanatkan untuk senantiasa mempertahankan kemenangan dengan peningkatan kualitasnya.

Jelas dari jawaban ketiga siswa tadi, kita dapat meraba karakter setiap peserta. Karakter itu terbentuk karena pendidikan yang setiap hari diterimanya di sekolah. Siswa yang tidak sekedar mendapatkan pendidikan akademik tapi juga pendidikan religius, terlihat lebih percaya diri, lebih yakin, dan bertanggungjawab. Bagaimana dengan siswa sekolah kita?

Untuk membentuk siswa yang berkarakter, kita perlu mengevaluasi dan meng-upgrade beberapa aspek dalam sekolah kita. Aspek tersebut adalah ; 1. Peserta didik, 2. Kurikulum, 3. Guru, 4. Lingkungan.

1. Peserta didik

Dalam sebuah permainan puzzle, seseorang mencoba merangkai satu demi satu bagian puzzle tersebut. Dia berusaha keras merangkai kepingan demi kepingan dengan tujuan terbentuknya satu model atau gambar yang utuh. Berjam-jam ia belum juga dapat menyelesaikan mainan walau sudah terbayang dalam pikirannya, gambar apa yang akan tercipta dari kepingan puzzle tersebut. Makin lama iapun berdiri dan meninggalkan mainannya. Ia bilang, walaupun tak berhasil membentuk gambar yang semestinya, paling tidak ia telah berusaha dan dia menikmati usaha yang telah dilakukannya. Ia berpikir, yang penting usahanya, bukan hasilnya.

Wajar saja ia tak mencapai hasil yang diharapkannya karena sebenarnya ia sendiri tak tahu gambar apa yang akan terbentuk jika puzzle itu bisa ia selesaikan. Ia sama sekali tak pernah mau melihat contoh gambar yang menjadi tujuan puzzle tersebut. Padahal dia memiliki selembar kecil gambar utuh dari permainan tersebut. Jika dia mau melihat dan membandingkan antara gambar yang menjadi target dengan kepingan-kepingan yang dia rakit, saya yakin dia bisa menyelesaikannya dengan baik.

Terhadap peserta didik. Jika diibaratkan sebagai kepingan puzzle, target apakah yang akan kita rangkai? Ini pertanyaan sederhana yang sering dilupakan para pendidik. Beberapa orang guru yang pernah saya ajak bercengkrama bahkan sama sekali tak bisa menjawab ketika saya bertanya, mau dibentuk seperti apa anak didik anda? Mau dijadikan apa mereka? Pertanyaan ini saya lontarkan karena saya tak mau kita hanya menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk merangkai puzzle yang tak pernah kita tahu bentuk finalnya. Setiap guru harus memahami master plan dari pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. Master plan itulah yang menjadi visi dan misi sekolah. Dan seperti merangkai puzzle, guru harus melakukan evaluasi, apakah pekerjaannya telah sesuai dengan target-target yang merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan utama.

Jadi, apakah sekolah anda memiliki master plan? Bagaimana anda menjelaskan master plan tersebut kepada semua tenaga pendidik di sekolah? Inilah yang harus diuraikan dalam aspek kedua, kurikulum.

2. Kurikulum

Apa yang harus dicapai oleh peserta didik tertuang dalam kurikulum. Pemerintah telah menetapkan kurikulum nasional yang merupakan upaya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Walaupun masih bersifat abstrak, setiap sekolah berkewajiban menginterpretasikan dan mengkonkretkan kurikulum pendidikan nasional sesuai dengan kecerdasannya masing-masing.

Kurikulum merupakan perangkat utama dalam mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum juga didesain sebagai upaya untuk mencapai visi dan misi sekolah. Karena itu penyusunan kurikulum harus senantiasa berkiblat kepada visi sekolah. Pemerintah telah berbaik hati untuk membebaskan setiap sekolah menyempurnakan kurikulumnya dengan terma muatan lokal. Para analis pendidikan yang ekstrim bahkan menilai kebijakan pemerintah dalam mensosialisasikan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan ketidakmampuan pemerintah dalam membuat kurikulum nasional yang lebih konkret. Tapi terlepas dari berbagai anggapan, manajemen berbasis sekolah adalah ruang bebas untuk memodifikasi kurikulum nasional dengan kurikulum khas sekolah. Tinggal bagaimana sekolah mampu merancang kurikulum yang mudah dipahami dan dilaksanakan oleh agen pendidikannya, yaitu guru sebagai agent of change.

3. Guru

Guru adalah agent of change, orang yang bertanggungjawab dalam menciptakan perubahan. Setiap siswa yang ditangani oleh guru, mesti mengalami perubahan dari karakter lama kepada karakter baru sebagai orang yang terdidik.

Kita harus insyafi bahwa peserta didik adalah titipan orang tua yang tidak seperti botol kosong. Mereka diserahkan kepada guru dengan segala kepribadian dan masalah multidimensional. Kepribadian dan masalah ini tentunya terbentuk dari lingkungan sebelum peserta didik tersebut masuk dalam lingkungan sekolah kita. Sebagai agent of change, guru berusaha mengubah realitas kini (siswa dengan segala kondisi yang dipengaruhi latar belakangnya) menjadi realitas baru, ketika siswa telah mengenyam pendidikan beberapa tahun.

Ada dua wawasan yang harus dimiliki oleh agent of change. Pertama adalah sense of belonging. Guru harus punya rasa memiliki baik terhadap sekolah, terutama terhadap anak didiknya. Apapun yang akan terjadi pada anak didiknya, ia akan menyikapinya seperti ia menyikapi dirinya sendiri. Seperti kemanunggalan anggota badan, guru selalu berupaya merasakan sesuatu yang dirasakan oleh anak didiknya. Rasa memiliki ini akan terwujud pada wawasan kedua, sense of responsibility. Guru bertanggungjawab atas perubahan yang terjadi pada anak didiknya. Apakah perubahan itu bersifat destruktif atau konstruktif, guru senantiasa siap dengan cahaya yang menerangi dan lautan hikmah yang menyejukan bagi anak didiknya.

Tantangan bagi agent of change sudah kita maklumi. Selain permasalahan latar belakang keluarga, dimana anak didik mendapatkan kebiasaan lazim dan persepsi orang tuanya, mereka juga memiliki latar belakang masalah secara sosial dan global. Latar belakang sosial sangat mempengaruhi perilaku siswa. Pola pergaulan, persepsi masyarakat tempatnya berinteraksi merupakan hal penting yang harus dianalisis. Selain itu efek global dari teknologi informasi juga hal penting yang harus dikaji oleh guru. Kita telah paham bagaimana kehebatan media televisi dan internet dalam mengubah budaya anak-anak kita. Inilah tantangan yang dihadapi oleh guru sebagai agent of change.

4. Lingkungan

Berangkat dari pemahaman akan latar belakang siswa, sekolah harus mendesain tata sosial baru bagi semua anggota komunitas pendidikan. Tata sosial ini sangat penting mengingat format yang telah dibentuk oleh latar belakang siswa sebelum memasuki sekolah ini. Lingkungan yang harus dibentuk oleh sekolah merupakan sebuah sistem dalam menerapkan kurikulum pendidikan dan pencapaian visi.

Manajemen sekolah adalah pengendali bahtera sekolah. Kebijakan yang dibuat oleh manajemen sangat menentukan perjalanan sekolah tersebut. Dalam satu kasus, manajemen sekolah harus menyusun kebijakan yang mudah dipahami oleh semua anggota komunitas sekolah, mulai dari guru, karyawan, hingga siswa. Tidak jarang terjadinya misunderstanding, bukan karena murni pelanggaran, tetapi karena ketidakpahaman dalam mencerna arti sebenarnya dari sebuah kebijakan.

Misal, seorang guru yang diberikan tanggung jawab menangani beberapa siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler kurang ekspresif dalam bekerja. Penyebabnya adalah karena guru tersebut tidak memahami job description yang menggunakan istilah yang terlalu umum dan multi interpretasi, tidak memakai istilah yang spesifik dan atau konkret. Begitupun dalam menyusun peraturan. Kesimpulannya, apapun kebijakan yang diciptakan oleh manajemen, usahakan agar menggunakan istilah yang spesifik bahkan bila perlu sangat teknis.

Seperti ketika kita membuka perangkat elektronik baru, untuk mengoperasikannya kita butuh manual book. Bayangkan bila manual book tersebut tidak mudah dipahami. Mungkin saja alat baru tersebut bisa beroperasi normal, dan bisa jadi justru abnormal.

Bahkan kebijakan tersebut harus mencakup pada urusan anggaran sekolah, sarana dan prasarana, serta yang paling penting adalah panduan membentuk keluarga dalam lingkungan sekolah. Yang terakhir ini biasanya diterapkan pada sekolah berasrama.

sekolah adalah sebuah sistem dan setiap komponen dari sistem mesti bekerja sesuai dengan fungsinya hingga dapat dikatakan berjalan. Jika kita mampu mendesain system sekolah sesuai dengan master plan yang telah dipahami, insya Allah, sekolah kita memiliki karakter yang khas. Sehingga, ketika lulusan sekolah ini berinteraksi pada dunia barunya, orang-orang mampu merasakan karakter yang benar-benar jelas dan pasti. Karena itu, mulailah dengan memahami gambar apa yang akan kita buat dari rangkaian puzzle di sekitar kita.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s