Drssuharto’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI SEKOLAH (SISKO) Maret 4, 2008

Filed under: Artikel Pendidikan — drssuharto @ 3:32 pm

Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Sekolah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. Sekolah dengan berbagai keragamannya itu, diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak didiknya. Agar mutu tetap terjaga dan agar proses peningkatan mutu tetap terkontrol, maka ada standar yang diatur dan disepakati secara nasional untuk dijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut (adanya benchmarking). Standar nasional pendidikan meliputi: satandar kompetensi lulusan; standar isi; standar pendidik & tenaga kependidikan; standar proses; standar sarana & prasarana; standar pembiayaan; standar pengelolaan, dan standar penilaian pendidikan. Pengelolaan peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah dikenal dengan manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (School Based Quality Management) atau School Based Quality Improvement. Sekolah dituntut untuk memberikan layanan pengembangan semua potensi peserta didik secara optimal menjadi kemampuan untuk hidup. Lulusan sekolah harus memiliki pengetahuan dan keterampilan serta berperilaku yang baik. Seorang guru mendapat tugas untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan dan sikap; melakukan penjaringan dan melaporkan hasil penilaian. teknologi informasi membantu guru dan pengelola sekolah sebagai sistem informasi sekolah.

BAB I : Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah

Ketika satu tahun pembelajaran berakhir, pertanyaan yang selalu diajukan kepada penyelenggara pendidikan tingkat SMP adalah; (1) berapa prosentase siswa yang lulus?; (2) berapa capaian nilai ujian akhir murni ; dan ujian akhir murni ; dan (3) berapa jumlah lulusan yang diterima di SMA (favorit)? Adalah sangat jarang yang menanyakan: “sejauhmana tingkat pemahaman siswa terhadap materi-materi yang dipelajarinya?”, atau “sejauhmana ketercapaian target kurikulum?” atau “bagaimana perubahan sikap dan perilaku siswa selama proses pembelajaran?”. Juga jarang yang bertanya “bagaimana korelasi antara input siswa dengan output yang dihasilkan?”. Lebih parah lagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adakalanya tidak pernah dikaitkan dengan bagaimana kondisi-kondisi ideal yang seharusnya ada untuk terselenggaranya proses belajar mengajar yang baik. Meskipun setiap pelaku pendidikan bersepakat dengan paradigma lama bahwa pendidikan harus melibatkan inputprosesoutput, faktanya keberhasilan sekolah hanya dipandang dari hasil akhirnya saja. Oleh karena itu, demi mengejar hal tersebut segenap energi harus diarahkan ke sana. Segenap energi harus diarahkan ke sana. Sekolah bagaikan sebuah proses produksi. Murid dijadikan sebagai raw input dalam suatu pabrik, sedangkan guru, kurikulum dan fasilitas pembelajaran menjadi instrumental input. Bila raw input dan instrumental input baik, maka akan menimbulkan proses yang baik hingga pada akhirnya akan menghasilkan output yang baik pula. Pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan menentukan standar nasional pendidikan. Standar nasional pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Standar nasional pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Penyelenggara sekolah dituntut untuk memenuhi delapan (8) kriteria standar: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar proses, standar sarana dan prasarana, standar pembiayaan, standar pengelolaan, dan standar penilaian pendidikan.


SISKOPersaingan yang terjadi pada era ini pada dasarnya terletak pada kualitas sumber daya manusia, yaitu kemampuan yang dapat dilakukan oleh SDM. Kemampuan ini disebut sebagai kompetensi. Kompetensi lulusan dijabarkan berdasarkan pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Pada bab II Pasal 3 UU RI No. 20 thn 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa: pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yg demokratis serta bertanggung jawab.Kompetensi lulusan suatu jenjang pendidikan sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu: ranah pengetahuan, ranah psikomotor, dan ranah afektif. Ranah pengetahuan mencakup cakap dan berilmu, ranah psikomotor mencakup kreatif, sedang ranah afektif mencakup berakhlak mulia, sehat, beriman, dan bertaqwa, mandiri dan demokratis. Semua komponen pada tujuan pendidikan nasional harus tercermin pada kurikulum dan sistem pembelajaran pada semua jenjang pendidikan. Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, tugas sekolah adalah mengembangkan potensi peserta didik secara optimal menjadi kemampuan untuk hidup di masyarakat dan ikut menyejahterakan masyarakat. Lulusan suatu jenjang pendidikan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan serta berperilaku yang baik. Untuk itu peserta didik harus mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan standar yang ditetapkan. Seorang guru mendapat tugas untuk mengajarkan pengetahahuan, keterampilan dan sikap supaya siswa cakap dan kreatif pada bidang studi tersebut. Seorang guru harus dapat melakukan penjaringan penilaian terhadap ketiga ranah di atas dan menggambarkan keberhasilan pembelajarannya. Guru harus dapat menggambarkan keberhasilan siswa pada ranah pengetahuan (kognitif) beserta deskripsi atau profil keberhasilan pencapaian kompetensi per kompetensi dasar (KD). dengan peningkatan kualitas pendidikan dan prestasi siswa, serta suatu visi mengenai restrukturisasi sistem pendidikan.


Implemetasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut :

  1. Pertama, sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal yaitu dimilikinya kekuasaan dan kewenangan, pengembangan pengetahuan yang berkesinambungan, akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap orang yang berhasil.
  2. Kedua, adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan, proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan instruksional serta non-instruksional.
  3. Ketiga, adanya kepemimpinan kepala sekolah yang mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumberdaya sekolah secara efektif.
  4. Keempat, adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif.
  5. Kelima, semua pihak harus memahami peran dan tanggungjawabnya secara sungguh-sungguh.
  6. Keenam, adanya guidelines dari Departemen Pendidikan Nasional terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. Guidelines itu jangan sampai berupa peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu sekolah.
  7. Ketujuh, sekolah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya.
  8. Kedelapan, penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa.
  9. Kesembilan, implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS, identifikasi peran masing-masing, mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya, implementasi pada proses pembelajaran, evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan.

B. Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP YPK
Penerapan MBS di setiap sekolah pasti berbeda sesuai dengan kondisi riil setempat, begitupun yang berlaku di SMP YPK. Kondisi riil penyelenggaraan pendidikan bila dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari pendirian sekolah-sekolah di bawah binaan yayasan adalah; (1) input siswa yang sangat heterogen, (2) proses pembelajaran, menyangkut kualifikasi sumber daya manusia dan keterbatasan sarana parasana serta (3) harapan agar menghasilkan lulusan terbaik.

1. Penanganan Input Siswa Heterogen
Misi utama dari pendirian sekolah-sekolah di lingkungan Yayasan Pupuk Kaltim adalah untuk mendidik putra-putri karyawan. Bagaimanapun kondisi anak karyawan harus diterima tanpa dipilih atau dites kemampuannya. Dalam hal ini pengalaman membuktikan bahwa selama hampir 23 tahun sekolah ini berdiri, kondisi-kondisi itu tidak pernah mengalami perubahan sedikitpun. Menangani kondisi siswa yang memiliki kemampuan beragam ini, SMP YPK memberanikan diri untuk memberikan layanan antara lain;

  • Kelas akselerasi bagi siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata (sejak tahun pelajaran 2002/2003), atas rata-rata (sejak tahun pelajaran 2002/2003),
  • Pemberlakuan remedial bagi siswa yang lambat belajar,
  • Pembelajaran standar tanpa pengelompokan bagi siswa lainnya, dan
  • Terhadap anak yang lamban juga diselenggarakan SMPLB (ditangani unit khusus; SLB Yayasan Pupuk Kaltim).


Terhadap anak-anak di atas maupun di bawah normal, SMP YPK melakukan pendekatan individual untuk mengembangkan potensi anak sesuai bakat masing-masing.

2. Penyelenggaraan Proses Belajar Mengajar
Hal yang terkait dengan proses belajar mengajar adalah sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta sistem pembelajaran.

a. Pembinaan Sumber Daya Manusia
Sebagai unit sekolah yang berada di bawah kendali Yayasan, SMP YPK tidak memiliki wewenang untuk menentukan kualifikasi guru dan tenaga lainnya. Setiap guru dan karyawan yang ditugaskan ke SMP harus diterima dan diberikan beban kerja yang sama. Atas kondisi ini, maka komposisi guru dan karyawanpun menjadi beragam baik dalam pengalaman maupun kemampuan. Ada yang sudah sangat senior (masa kerja > 10 tahun), ada yang menengah (s.d 10 tahun) bahkan ada yang masih relatif baru (di bawah 1 tahun). Penanganan hal tersebut, SMP YPK mengembangkan pendekatan organisasional yang transparan, komunikatif dan partisipatif. Rasa memiliki (sense of belonging) dari sumber daya manusia selalu diasah dengan melibatkan seluruh keluarga besar SMP YPK dalam merencanakan kegiatan-kegiatan strategis sejak awal. Menyadari keberagaman pengalaman dan kualitas, adalah tugas yang tidak mudah bagi seorang Kepala Sekolah untuk bisa menyatukan potensi positif agar mencapai tujuan yang sama. Langkah-langkah yang selama ini dilakukan dan kami pandang cukup berhasil untuk mempersiapkan SDM yang handal adalah;

b. Konsolidasi Ketenagaan
Penyadaran bahwa SMP YPK membawa misi substitusi SMP-SMP favorit di “Pulau Jawa” menjadi faktor penyemangat untuk bekerja keras. Kami manfaatkan guru-guru senior untuk berbagi pengalaman kepada para juniornya lewat keteladanan dan pembimbingan. Sementara di pihak lainnya, kami manfaatkan semangat dan mobilitas guru-guru muda untuk menggerakkan inovasi-inovasi pembelajaran dan pembinaan kesiswaan. Kerjasama yang solid ini terus menerus kami bangun dan pertahankan hingga saat ini. Hasilnya, meskipun setiap tahun ada mutasi (keluar-masuk), tim yang kokoh tetap bertahan.

c. Pendelegasian Wewenang dan Kaderisasi
Dalam struktur jabatan yang resmi diberlakukan Yayasan, setiap sekolah dipimpin oleh Kepala Sekolah yang dibantu oleh 3 (tiga) Wakil Kepala Sekolah; kurikulum, kesiswaan dan sarana. Kemudian SMP YPK membuat kebijakan membuat personel tambahan di bawah Wakasek yaitu Koordinator-koordinator. Para koordinator itu antara lain: koordinator kurikulum, kesiswaan, ekstrakurikuler, kedisiplinan, sarana dan tenaga serta kesejahteraan. Mereka dipilih dari beberapa guru yang dipandang memiliki kemampuan manajerial dalam bidang-bidang tersebut. Keuntungan dari pemberlakuan sistem ini adalah: (1) membantu tugas wakil kepala sekolah dalam menangani suatu tugas tertentu; (2) pekerjaan-pekerjaan tertentu menjadi lebih detil dan dilakukan secara lebih professional; dan (3) sebagai sarana pelatihan dan kaderisasi jabatan bagi guru.

C. Pelatihan, Magang dan Kaji Banding
Setiap ada kebijakan baru di bidang pendidikan, terutama pemberlakuan kurikulum baru, program khusus (misalnya CBSA, akselerasi, broadbase education-life skill, teknologi informasi, dll.), life skill, teknologi informasi, dll.), dan sejenisnya, yayasan senantiasa proaktif untuk mengajukan sekolah-sekolah binaannya (termasuk SMP) untuk mengadakan piloting. Kerapkali saat program-program ini dilaksanakan para pelaksana di lapangan memerlukan pelatihan-pelatihan, training atau pembimbingan. Karena keterbatasan informasi, maka yayasan secara mandiri mengundang nara sumber untuk mengadakan pelatihan/training di sekolah atau mengirimkan para guru dan karyawannya untuk magang dan kaji banding di sekolah-sekolah yang ditunjuk resmi oleh pemerintah. Hasil dari program ini selanjutnya akan di-diseminasi dan disosialisasikan kepada guru atau karyawan yang belum mendapatkan kegiatan serupa.

3. Pengembangan Sarana dan Prasarana
Tak dapat dipungkiri bahwa metode pembelajaran efektif memerlukan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Apalagi di era pembelajaran multimedia seperti saat ini, kehadiran perangkat multimedia berbasis teknologi informasi menjadi sebuah keharusan. Langkah-langkah yang telah dan akan kami lakukan sehubungan dengan pengembangan sarana dan prasarana adalah; (1) melengkapi buku pegangan dan referensi bagi guru, (2) komputerisasi administrasi sekolah, (3) penataan laboratorium computer dan internet, (4) penataan laboratorium IPA, (5) penataan ruang multimedia, (6) penataan dan melengkapi koleksi perpustakaan dan (7) membangun jaringan local (LAN).

C.Sistem Informasi Sekolah (SISKO)

  1. Konsep Sisko
    Sisko adalah sebuah sistim informasi di lingkungan sekolah yang digunakan untuk menangani dan menginformasikan berbagai aspek yang menyangkut sekolah baik dari sisi akademik maupun non-akademik.
  2. Latar Belakang
    Institusi pendidikan seperti sekolah sudah memiliki kekomplekan yang cukup tinggi dalam hal penyimpanan data, pengolahan data dan penyajiannya dalam bentuk informasi. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi maka tidak bisa dihindarkan lagi untuk tidak memanfaatkannya di lingkungan sekolah. Dengan menerapkan sisko, sekolah dapat dengan mudah dan cepat untuk melakukan penyimpanan, pengolahan, dan penyajian data. Sehingga data-data penting sekolah dapat tersimpan dengan baik dan konsisten, memiliki kesiapan yang tinggi untuk mendapatkannya dalam bentuk informasi.
  3. Skema Sisko
    Sisko dapat diterapkan pada sebuah komputer tunggal dan juga dapat diterapkan pada sebuah jaringan komputer lokal (LAN). Penerapan sisko pada LAN akan semakin memudahkan sekolah dalam meng-update data ataupun mendapatkan informasi dikarenakan tidak tergantung pada satu komputer. Seluruh data yang dimiliki oleh sekolah tersimpan secara terpusat di satu komputer (server) sehingga keakuratan dan ketersediaan data dapat terjamin.

SISKO

Skema Sisko pada Sebuah Sekolah


4. Cara Kerja Sisko
Cara kerja sisko adalah sebagai berikut :

· Setidaknya di sekolah disediakan sebuah komputer yang akan bertindak sebagai komputer server.

· Petugas memasukkan data-data utama pada awal tahun pelajaran dan juga pada awal semester dan secara rutin memasukkan data-data harian.

· Guru memasukkan data nilai secara berkala.

· Seluruh data dalam komputer server dapat diakses oleh seluruh komputer di sekolah yang terhubung dalam LAN.

· Data yang terdapat di server kemudian digunakan untuk penyajian informasi secara langsung atau dalam bentuk cetakan.

5. Keunggulan Sisko

· Menyimpan seluruh informasi yang dimiliki oleh sekolah. Sisko menyimpan seluruh data sekolah baik data akademik maupun non akademik. Sehingga kebutuhan akan informasi dapat terpenuhi dengan cepat, mudah, dan akurat. Data yang tersimpan dapat dipakai sepanjang waktu tanpa dibatasi oleh tahun pelajaran ataupun semester.

· Mempercepat dan mempermudah kegiatan administrasi sekolah.

· Kebutuhan perangkat keras dapat dibuat seminimal mungkin.

6. Manfaat SISKO

· Bagi siswa: (1) memotivasi belajar siswa; (2) membantu anak untuk belajar mandiri dan aktif; (3) bertukar informasi antara murid dan guru; dan (4) membiasakan anak menggunakan Teknologi Informasi.

· Bagi orangtua: (1) sarana untuk memantau perkembangan belajar anak selama di sekolah; (2) memudahkan komunikasi dengan para guru dan pengelola sekolah; dan (3) membantu proses belajar anak.

· Bagi guru dan pengelola sekolah: (1) membantu proses administrasi dan pengelolaan sekolah; (2) membantu proses belajar mengajar guru di sekolah; (3) membiasakan guru menggunakan teknologi informasi; dan (4) membantu proses pengambilan keputusan pengelola sekolah.

7. Informasi-informasi yang terdapat di dalam Sisko
Jenis informasi ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu informasi akademik dan informasi non akademik. Sisko terdiri dari sejumlah modul yang masing-masing memiliki fungsionalitas baik dalam hal pengolahan data maupun penyajian informasi sebagai berikut:
a. Modul Kesiswaan
Modul Kesiswaan merupakan bagian dari sistem yang menangani masalah kesiswaan. Modul ini memiliki fungsionalitas sebagai berikut :

· Penanganan data siswa yang meliputi tambah, ubah dan hapus data.

· Penanganan data orangtua/wali siswa yg meliputi tambah, ubah & hapus data.

· Menampilkan data detil setiap siswa dan orangtua/wali.

· Menampilkan daftar seluruh sswa.

· Menampilkan daftar seluruh siswa dan orangtua/wali.

· Melakukan pencarian siswa berdasarkan nomor induk atau nama.

· Menampilkan data statistik siswa yang meliputi umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan orangtua, dll.

b Modul Guru
Modul guru ini memiliki fungsionalitas sebagai berikut :

· Penanganan data guru yang meliputi penambahan, pengubahan dan penghapusan data.

· Menampilkan daftar guru.

· Penanganan data guru mengajar,yaitu menentukan seorang guru mengajar mata pelajaran apa di kelas mana saja pada tahun pelajaran dan semester tertentu.

· Menampilkan data guru mengajar untuk semua guru atau seorang guru tertentu.

· Menampilkan daftar guru yang mengajar pada sebuah kelas pada tahun ajaran dan semester tertentu.

c. Modul Kelas
Modul kelas memiliki fungsionalitas sebagai berikut :

· Penanganan data kelas meliputi penambahan data, pengubahan dan penghapusan.

· Menentukan kelas seorang siswa pada tahun ajaran dan semester tertentu.

· Menampilkan daftar siswa suatu kelas pada tahun ajaran dan semester tertentu.

d. Modul Pelajaran
Modul pelajaran memiliki fungsionalitas sebagai berikut:

· Penanganan data pelajaran meliputi penambahan data, pengubahan dan penghapusan.

· Menampilkan daftar mata pelajaran.

e. Modul Jenis Ulangan
Modul jenis ulangan memiliki fungsionalitas sebagai berikut:

· Penanganan data jenis ulangan yang meliputi meliputi penambahan data, pengubahan dan penghapusan.

· Menampilkan daftar jenis ulangan.

f. Modul Ulangan
Modul ini merupakan sistem yang menangani data ulangan, dan menginformasikan data-data ulangan dan nilai. Data ulangan ini adalah data yang mencatat terjadinya ulangan berdasarkan jenisnya, mata pelajaran, kelas, tahun ajaran, semester dan tanggal. Fungsionalitas dari subsistem ini adalah:

· Penanganan data ulangan yang meliputi menambah data ulangan, mengubah dan menghapus data.

· Memasukkan nilai untuk sebuah data ulangan.

· Menampilkan daftar ulangan menurut kelas, tahun ajaran dan semester tertentu.

· Menampilkan daftar ulangan dan nilai untuk seorang siswa. Dalam hal ini data ditampilkan berdasarkan jenis ulangan tertentu atau semuanya, mata pelajaran tertentu atau semua, tahun ajaran dan semester tertentu.

· Menampilkan semua data ulangan dan nilainya untuk suatu kelas pada tahun ajaran dan semester tertentu.

· Menampilkan daftar ulangan dan nilai berdasarkan kelas tertentu, jenis ulangan tertentu atau semuanya, mata pelajaran tertentu atau semua, tahun ajaran dan semester tertentu.

· Menampilkan daftar nilai rata-rata untuk kelas, tahun ajaran dan semester tertentu, untuk jenis ulangan tertentu atau semuanya dan untuk mata pelajaran tertentu atau semuanya.

g. Modul Pembayaran
Modul pembayaran merupakan bagian dari sistem yang menangani data-data pembayaran, dan mengasilkan informasi/laporan dari data pembayaran tersebut. Adapun fungsionalitas Modul ini secara rinci adalah sbb :

· Penanganan terhadap data jenis pembayaran yang meliputi menambah, mengubah dan menghapus data.

· Menampilkan daftar jenis pembayaran.

· Mencatat proses/kejadian pembayaran berdasarkan jenis pembayaran, no induk siswa , tanggal, tahun pelajaran dan besarnya pembayaran.

· Menampilkan data pembayaran berdasarkan semua jenis pembayaran atau tertentu, kelas dan tahun ajaran tertentu.

· Menampilkan data pembayaran menurut kelas, tahun ajaran tertentu.

· Menampilkan data pembayaran menurut siswa dan tahun ajaran tertentu.

· Memasukkan data pembayaran untuk satu kelas menurut jenis pembayaran tertentu dan tahun ajaran tertentu.

· Menampilkan data pembayaran berdasarkan tanggal tertentu untuk satu, beberapa, atau semua jenis pembayaran.

h. Modul Ekstrakurikuler
Modul ekstrakurikuler menangani data dan informasi kegiatan ekstrakurikuler. Modul ini memiliki fungsionalitas-fungsionalitas sbb :

· Penanganan data ekstrakurikuler yang meliputi penambahan, pengubahan dan penghapusan data.

· Menampilkan daftar ekstrakurikuler.

· Penanganan data keanggotaan ekstrakurikuler yang meliputi penambahan, pengubahan dan penghapusan data keanggotaan.

· Menampilkan daftar anggota ekstrakurikuler.

· Menampilkan daftar ekstrakurikuler yang diikuti oleh siswa suatu kelas tertentu.

i. Modul Penilaian
Modul penilaian merupakan bagian dari sistem yang digunakan untuk melakukan penilaian terhadap siswa menurut kurikulum berbasis kompetensi. Di dalam modul ini mencakup penanganan terhadap data-data yang berhubungan dengan nilai siswa yaitu kompetensi dasar untuk setiap pelajaran, aspek-aspek yang dinilai dari seorang siswa, dan metode-metode penilaian. Modul ini juga mencakup proses pelaporan hasil belajar seorang siswa:

· Laporan kemajuan belajar (rapor) siswa dibuat dalam suatu kartu hasil belajar (print out).

· Rapor terdiri dari tiga bagian: (1) nilai kognitif, psikomotor dan afektif, (2) deskripsi ketercapaian kompetensi dasar (KD) atau materi; dan (3) ekstrakurikuler, ketidakhadiran dan kepribadian siswa.

· Guru-guru memasukkan nilai : kognitif, psikomotor, dan afektif setiap selesai ulangan harian/blok disertai data materi/KD.

· Program akan memberi informasi ketuntasan siswa pada KD/materi tersebut dan ketuntasan kelompok.

· Apabila ketuntasan kelompok/kelas belum mencapai 70 % guru tersebut mempunyai kewajiban melakukan remedial.

· Di akhir semester Program penilaian secara otomatis akan print out rapor beserta nilai deskripsi dan kepribadian siswa.

· Deskripsi bidang studi adalah informasi prosentasi ketercapaian/ketuntasan tiap KD/materi di bidang studi tersebut.

· Apabila materi/KD terlalu banyak dan akan mengakibatkan terlalu panjang deskripsinya maka yang dimunculkan di rapor adalah info ketercapaian KD ekstrim baik dan tidak baiknya saja.

· Deskripsi secara lengkap akan muncul di profil hasil belajar dan termasuk yang dilaporkan kepada orangtua/sekolah dalam bentuk rekap perkelas.

· Nilai Kepribadian.

· Setiap siswa diberi voucher nilai 100.

· Nilai voucher akan berkurang setiap saat apabila siswa melakukan hal-hal negatif (seperti aspek-aspek yang telah ditentukan).

· Setiap guru setiap saat menjadi penilai dan apabila kedapatan siswa melakukan hal-hal negatif, guru tersebut langsung mengurangi dan memasukkan ke format penilaian kepribadian dan program akan otomatis mengurangi voucher nilai siswa yang bersangkutan.

· Siswa/orangtua/sekolah setiap saat dapat mengakses perkembangan nilai setiap siswa.

BAB III: PENUTUP
A. Kesimpulan

  1. Konsep MBS yang digulirkan sejak era otonomi pendidikan membawa paradigma baru tentang aspek-aspek pengelolaan sekolah secara mandiri dan menjadikan pengelolaan sekolah menjadi lebih efektif dan terprogram dalam mencapai hasil-hasil yang telah ditetapkan karena melibatkan seluruh warga sekolah dan stake holder.
  2. Seorang guru harus dapat melakukan pengadministrasian pengajaran, melakukan pembelajaran semua kompetensi baik kognitif, psikomotor maupun afektif, melakukan penjaringan penilaian semua aspek dan melaporkannya pada siswa dan orang secara cepat dan akurat.
  3. Pengembangan sistem informasi sekolah sangat membantu guru-guru dan sekolah mengelola pengadministrasian akademik dan non-akademik untuk dapat memberikan layanan akademik dan nonakademik cepat, akurat dan akuntabilitas kepada seluruh masyarakat sekolah.

B. Saran

  1. Penerapan konsep MBS membawa konsekuensi perubahan paradigma dalam pendidikan sehingga perlu diadakan pelatihan.
  2. Sebelum melaksanakan program MBS setiap sekolah harus memiliki Komite Sekolah yang akan menjadi mitra dalam menyusun dan menjalankan program-program yang dibuat.
  3. Rancangan Anggaran dan pendapatan dan biaya sekolah (RAPBS) harus transparan dan tingkat akuntabilitasnya baik.

(Ditulis oleh : Drs. Rakim)

Last update : Friday, 15 February 2008

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s